Rabu, September 24, 2008

Siapa Deddy Stanzah



Seorang kawan ngasih tau ttg adanya blog baru berisi lagu2 indonesia jadul. ketika saya klik, ternyata ada banyak lagu yang saya belum punya, termasuk lagu yg selama ini saya cari. Judul lagunya Siapa Aku, dinyanyikan Deddy Stanzah. Lagu ini akrab di telinga saya saat masih tinggal di Cicadas, tahun 80an. Nongkrong di tembok depan rumah, sambil main gitar, bersama teman2... aih... :) ambil nunggu 'adik kelas' pulang sekolah yang
selalu lewat depan rumah... lagu ini termasuk salah satu yg sering dimainkan dan dinyanyikan dengan girang oleh teman2 yg saat itu sebagian masih berprofesi sebagai bangsat, maling, copet dan belajar jadi preman. Maklum, di Cicadas :)

Deddy Stanzah adalah orang Cikaso, tetangganya Cicadas. Pada masa keemasannya, Deddy adalah frontman dari band legendaris The Rollies yang disegani kawan dan lawan, dengan hits Hari-hari, Kemarau, Dansa Yok Dansa, dll. Deddy melesat namanya saat menyanyikan lagu jawara Dasa Tembang Remaja berjudul Sepercik Air, yang menurut kuping saya, sangat luar biasa. Sayang lagu MP3nya kurang bagus, mungkin kaset from which the file is ripped udah mendem suaranya.

Kesuksesan Deddy membuatnya terjerumus ke dalam lembah hitam. Wuih! Saya pernah baca di majalah, karena ketergantungannya pada narkoba, Deddy pernah nekad merampok sebuah apotik bersama teman2nya. Saat itu juga, mereka bagi rata semua obat yang mereka temukan, lalu mereka telan sekaligus. Alhasil, mereka bangun di sel polisi, ... tiga hari kemudian.

Ada juga bbrp cerita ttg Deddy, misalnya saat teman saya berkunjung ke rumah Deddy untuk ngundang mentas, Deddy menyuguhkan sepiring pil BK, lalu sambil ngobrol, pil2 itu dikunyah seperti makan kacang. Paman saya cerita bahwa di Cihapit (penjualan barang bekas di Bandung), dia pernah bertemu Deddy yg saat itu menyapa Paman saya apakah dia mau menjual tape mobil. :)

Saya pernah nonton pertunjukan Deddy Stanzah bbrp kali. Pertama kali saat dia mentas di acara peringatan 17 Agustus di Sukamulya, tempat saya tinggal. Stage actnya memang luar biasa. Suaranya yang khas, dan goyangannya... tak ada tandingan. Berikutnya saat saya nonton acara Sunday Rock di Setra Sari. Waktu itu merupakan pentas musik lumayan besar, organized by radio Young Generation (atau Oz?). Rocker ngetop saat itu yang tampil adalah Deddy Stanzah dan Harry Mukti. Usai Harry Mukti nyanyi, MC Wedha Prastha bilang bahwa dia baru saja dapat kabar Harry Mukti dinobatkan sebagai Rocker Terbaik saat itu. Harry Mukti langsung bilang "Alhamdulilaah!" disambut tepuk tangan penonton. Apa reaksi Deddy Stanzah? Dia langsung naik panggung, menguasai mike, lalu bilang," Demi Tuhan, jangan salah pilih! Bagi saya Harry Mukti tidak ada apa-apanya!" Suara penonton bergemuruh. Dalam konser Sunday Rock ini, Deddy mengakhiri penampilannya dengan berlutut dan memejamkan mata. Tiba2 seorang anak perempuan kecil naik panggung, lalu mengalungkan bunga ke leher Deddy. Rupanya itu anak Deddy. Deddy membuka matanya, lalu mencium dan memeluk anak itu. Deddy lalu bertanya ke panitia, dan juga ke penonton dengan suara serak, seolah marah, "Mengapa dia ada di sini? Mengapa dia ada di sini?!"- Deddy is a real entertainer.

Lirik Siapa Aku yg dinyanyikan Deddy ini sangat menyentuh hati saya. Suara Deddy yang serak, meliuk2,
seperti meratap penuh penyesalan.
Silakan dinikmati. yang mau download, ini linknya http://www.mediafire.com/download.php?92u3wyfy2nj

Thanx To Achit. kalo mo baca lebih lengkap ttg Deddy, ini linknya http://id.wikipedia.org/wiki/Deddy_Stanzah


siapa aku (deddy stanzah)

jauh sudah kumenyusuri jalan
tinggalkan jejak di sana
seribu kisah tentang kehidupan
mendidih panas darahku

lumpur pekat di langkah kakiku
tenggelamkan citaku
di tapak tangan jelaga melekat
menghempas arti hidupku

reff:
di cermin kulihat wajahku
tak kukenali kembali
hitam legam menjarah mata hatiku
terbakar api noda

serangga malam simfoni sang kelam
membuatku terjaga
ku harus coba benahi diriku
di tengah badai yang datang

kan kubersihkan tangan ini
dari percik prahara
kan kuluruskan langkah ini
di sisa hari2 kenyataanku
menjelang batas waktu

panggilan jiwa menyapa namaku
membuatku terjaga
kuharus tegar menempuh arahku
ditengah badai yang datang

reff

Senin, September 08, 2008

Let's Check In...

selama bulan ramadhan tahun ini, setiap jam 12, (sebagian besar) kawan2 sekantor tidak (bisa) lagi berbondong2 ke kantin atau ke mall buat makan siang. sebagai gantinya, kami pergi ke mesjid raya pondok indah di seberang kantor. kalau untuk makan siang kami menggunakan kode "mangan, mangan!" atau "hayu madok", maka untuk ke mesjid ini kami pakai kode "check in".  maksudnya adalah, setelah shalat dzuhur berjamaah, kami bisa 'baguguringan' selama kurang lebih setengah jam. lumayan. cuaca jakarta yang panas, angin ngagelebug, ditambah dengan gumaman orang2 yg sedang tadarus al quran, suasana siang hari di masjid raya pondok indah ini memang betul2 kondusif buat tidur. uniknya, jam 12.55, serentak beberapa alarm dari arloji dan handphone berbunyi membangunkan pemiliknya supaya segera kembali ke kantor masing2.

tuhan ganti hatiku

tuhan ganti hatiku
dengan hati yang baru
karena hatiku yang ini
tak lagi punya rasa haru
saat suara adzan memanggil manggil
hatiku tak lagi menggigil
kepatuhanku tak lagi tampil
walau hanya setitik kecil

cabut hatiku, tuhan, cabut!
renggut...!
renggut sampai ke akar-akarnya yang lembut
biar semaput aku tersaput
tak ada takut walau sejumput

aku rindu, tuhan, aku rindu
ingin lagi aku menangis tersedu-sedu
seperti dulu
setiap kali kubersujud padamu

beri aku segumpal daging
yang berlumuran cinta
memompakan kasih
hingga ke ujung rambutku
beri aku sekeping hati
yang cepat tanggap
pada keadaan di sekelilingku
menebar benih putih
memancarkan cahaya

dulu
sepatah kata hamdalah
kurasakan seperti sebilah kapak
membelah dadaku
karena kurasakan aku tak cukup bersyukur atas karuniamu
tigapuluh tiga kali hamdalah
tigapuluh tiga kali ayunan kapak menerjang dadaku
hingga setiap dzikir berakhir
linangan air mata di pipi mengalir

tapi sekarang
jangankan sekali kuucap hamdalah
ratusan kali hingga kelu lidahku
menyebut namamu
tak sedikitpun ada getar darimu
yang terasa dalam dadaku

hatiku mungkin sudah membatu
hingga kapak hamdalah itu
tak lagi mampu membelah dadaku
karena dosa-dosaku
mengabaikan perintahmu

tuhan
kumohon berilah kesempatan
agar bisa kembali padamu
merasakan nikmat getar darimu
melalui sebuah hati yang baru


kelian, 10 okt 2003 18.07 wita