Rabu, Mei 14, 2008

Mars KPC by Leo Kristi

Akhirnya selesai juga. Lagu mars untuk Kaltim Prima Coal (KPC), produser batubara terbesar di Indonesia (mungkin dunia), yg digarap Leo Kristi (LK) sudah selesai. Pembuatan lagu ini dirintis sejak hampir 2 tahun yang lalu, dimulai saat LK diundang untuk mentas di Sangatta, lalu ditindaklanjuti dengan rencana pembuatan lagu mars untuk KPC. Riset, bahan mentah, & berbagai kendala dalam proses kreatif, sampai ke urusan administratif kontraktual membuat prosesnya jadi lebih lama dari yang diduga. Mungkin ditambah dengan keunikan dari LK yang eksentrik dan manager LK yang masih sangat muda. Tapi, syukurlah lagu ini akhirnya beres. Ini dia liriknya:

Bumi Etam Mandiri

Bening tatkala mengalir
Hening ditengah gemuruh
Gema karya mengiringi
Batu bara membangun Negeri

Gemercik air diantara floramu
Bersatu padu dengan faunamu
Aman nyaman berkarya bersama
Menggapai Energi kwalitas dunia

Mari bekerja, berkarya bersama 2X
Gelora semangat, gapai sejahtera 3X

Kobarkan semangat kebersamaan
Fajar abadi merah putih
Nyanyian hati Ibu Pertiwi

Tegar tegarlah hati
Sehat jiwa ragamu, Pada-Nya
Sinergi kerja dalam usaha
Bersama mitra, disiplin berkarya, dijaga

Mari, marilah kita bina
Sejahtera semua
Gerakkan roda dunia
Damai Bumi Etam Mandiri

Kaltim Prima Coal 3X

Bumi Etam Mandiri 3X
Bersama ..

Unsur etnik yang kental, mulai dari Dayak sampai Jawa sangat terasa dalam lagu ini. Suara alat musik petik khas Dayak, sampeq dan tingkilan, cukup dominan. Saat mendengar suara alat musik etnik, ditambah dengan suara efek air gemericik dan suara kicau burung, saya terbuai dan bisa merasakan keindahan alam. Saat muncul gesekan biola dan hentakan drum yang memberi semangat, saya merinding dan ingin bangkit dari duduk lalu jalan di tempat. Di beberapa bagian, lagu ini mirip dengan lagu Barcelona yang dibawakan duet Freddie Mercury dan Montserrat de Caballe.

Saya ingat saat LK diundang KPC untuk mentas di Sangatta dulu. LK dkk ditempatkan di salah satu blok akomodasi di Tanjung Bara T-35, bersebelahan dengan kamar saya di T-36. Sore hari, beberapa jam sebelum pementasan, saat Leo dkk sedang bersiap2 untuk diberangkatkan ke lokasi pertunjukan di Swarga Bara sports hall, Cecil mencak2. Penyanyi LK yg suaranya melengking tinggi ini menggerutu panjang pendek, sambil sesekali memegangi lehernya. Apa
pasal? Rupanya saat itu sedang beredar MMS video pemenggalan leher seorang tentara. Visualnya cukup menyeramkan. Si tentara disuruh berlutut, lalu lehernya digorok dengan pisau dari belakang, sampai putus! Kebayang nggak kalo anda seorang penyanyi yang bbrp jam lagi harus mentas, lalu melihat adegan potong leher semacam itu. Wajar Cecil marah2 setelah dia lihat MMS tsb. Konsentrasinya buyar dan mungkin suaranya bisa hilang mendadak. Leo cuma cengar cengir saja menanggapi Cecil. Untung saja pementasan berjalan lancar. Kawan Rahmad sudah menulis liputannya di sini.

Saya lalu membayangkan lagu Bumi Etam Mandiri ini dinyanyikan oleh paduan suara karyawan KPC. Para sekretaris yang helpful, dikomandani oleh Ms Yanti Djoko menyanyikan lagu ini dalam event2 KPC yg banyak itu. Ah... :)

Senin, Mei 12, 2008

Dego Dego di Manado



Manado menyebut dirinya Kota Tinutuan. Tinutuan artinya campur2 tapi jadinya enak. Yah, seperti bubur Manado. Berbagai macam dimasukin: sarupaning sayuran, labu, mie, dll dll ke dalam bubur... dan hasilnya (malah makin) enak. Jadi walau Manado ini tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai penjuru, tapi Manado tetap jadi 'kota yg nyaman untuk ditinggali.



Di Manado ada tempat bubur yang enak. Namanya Dego Dego, lokasinya di Jalan Wakeke. Di sana dijual bubur tinutuan alias bubur Manado, dengan kawan2nya seperti jagung rebus, tahu, dan ikan nike. Ada juga aneka juice. Waktu kawan saya bilang dia akan pesan ikan nike, yang terbayang di benak saya adalah penyanyi dari Bandung yang sudah mendiang Nike Armadillo dan sepatu olah raga. Hm, hidangannya mungkin enak dilihat, tapi bau sepatu? Saat ikan nike itu datang, dugaan saya salah. Ternyata bentuknya seperti kue cucur di Jawa, bentuknya bulat, warnanya coklat, berminyak karena digoreng. Fisiknya gak menarik deh. Tapi jangan tertipu penampilan. Begitu anda gigit, kunyah dan rasakan... eueeenakeeeee! Makan satu nggak cukup. Apalagi kalo dicelupin ke bubur panas. Dengan tambahan sambal, bubur anda pasti akan bikin kenyang, sampe keringetan...



Makan bubur di Dego Dego ini memang nyaman. Ada live music kolintang setiap Selasa & Jumat. lagu2 yang dimainkan oldies macam Release Me (Engelbert) dan How Can I Tell Her (Lobo). Pemain bassnya sangat ekspresif dan teatrikal. :) Selain itu di sini ada free wireless internet connection, dengan password yang bisa ditanyakan ke waiter.

Dego Dego milik seorang petinggi bank swasta di Manado ini buka hanya siang hari saja. Padahal makan bubur malem2 enak kan? No bibir Manado needed.

Selasa, Mei 06, 2008

Across The Beatles's Universe

Disc Tarra. PIM 1. Tinggal 1 biji. Damage Cost: Rp 100 rb.

Good story. Nice cover versions. Cameo: Bono U2. Psychadelic visuals in some parts (Kewl!). Nama2 tokoh dari lagu Beatles.

Bagus banget.Recommended by Harry. Review lengkapnya silakan baca ndiri di http://en.wikipedia.org/wiki/Across_the_Universe_(film)

Kalo anda penggemar Beatles, nggak akan bosen nonton film ini berulang2.

Jumat, Mei 02, 2008

The Stones are Still Rolling...

The Rolling Stones Night
The Rock Cafe, Grand Flora Kemang, 1 Mei 2008, 21.00


"A, Setun A...!" Ungkapan sopan untuk request lagu The Rolling Stones dulu sering saya dengar dulu saat tinggal di Bandung. Penonton pertunjukan musik di gang2 dalam rangka 17 Agustusan, atau segerombolan pemuda/preman yang ingin agar lagu Rolling Stones dinyanyikan. Kalau kira2 pemain musiknya 'sahandapeun' atau kira2 bisa diintimidasi, maka request tersebut bisa dimodifikasi dengan sedikit ancaman "Setun siah...!", biasanya diucapkan sambil mengelus2 gagang golok/pisau dibalik jaket. Ungkapan yang kedua ini terjadi di lingkungan masa kecil saya di negara beling Cicadas, Bandung. Saya nggak tau apakah fanatisme Rolling Stones seperti ini juga terjadi di daerah lain. Tapi kalau melihat acara The Rolling Stones Night tadi malam, saya yakin fanatisme semacam itu juga terjadi di daerah lain, dan menular ke semua kalangan. Yang hadir mulai dari kakek2 tua yang jalan aja udah susah, exmud, ibu2 berjilbab, sampai ke cewek2 ABG yang lagi belajar mabuk. Semuanya larut dalam suguhan musik Stones. Hampir semua bergoyang, ikut nyanyi, joget, dan ketawa melihat polah Stones maniacs berpesta.

Sambil nunggu acara dimulai, saya ngobrol2 sama my partner in crime. Kami duduk paling depan. We don't want to miss anything. Selain itu semua meja & sofa udah reserved. Tiba2 ada sms masuk. "Cieh nonton RS nite ^_^" Saya pun noleh ke belakang. Ada yg dadah-dadah dalam gelap. Rupanya run_knee dan temennya yang saya kenal dari milis 80an.

Acara The Rolling Stones Night ini digelar oleh Ibnu Jagger & Kiki Rasta Productions, menampilkan jawara2 dari grup2 yang terkenal macam Acid Speed Band, Black & Blue, dll. Seperti halnya konser RS yang suka menampilkan bintang tamu, dalam acara semalam juga ada bbrp bintang tamu yg dischedulekan spt the Coconut Trees, atau yang dadakan seperti Tio Pakusadewo.
Ngaret kurang lebih 90 menit, acara dibuka tanpa basa basi, langsung dengan intro Under My Thumb lewat permainan gitar Coky Acid Speed. Njet sang vokalis muncul dengan santai, dengan kostum yang sama sekali biasa. Kemeja putih, dengan celana kasual. Sumpah, saya kira dia penonton yang iseng naik ke panggung. Setelah kira2 separuh lagu, saya kok ngerasa ada nada2 yang beda... Ah, rupanya mereka memainkannya secara medley. Lalu berhamburanlah lagu2 klasik RS macam Let's Spend The Night Together, Jumpin Jack Flash, Honky Tonk Women, It's All Over Now, Bye Bye Johny, bikin semua penonton girang. Lagu2 solo Mick Jagger macam Hard Woman, dan Don't Look Back (w/ Peter Tosh) juga dibawakan.

Footages dari konser RS yang jadul mulai dari era Brian Jones sampai yang Voodoo Lounge juga ditampilkan di backdrop lewat video proyektor. Setengah pertunjukan ada break. Panggung diberesin dengan setting unplugged.

Setelah interval selama 30 menit, mereka muncul lagi dengan lagu2 sweet macam She's A Rainbow, Dead Flowers, dll. Tio Pakusadewo pun didaulat naik panggung, dan dia pun memainkan harmonika untuk lagu The Spider and The Fly. Gak nyangka Tio bisa main blues harp sebagus itu.

Njet ngajak semua penonton nyanyi Wild Horses sambil lihat teks di partitur. Kayak guru TK lagi ngajar membaca.

Saat lagu You Can't Always Get What You Want dibawakan, semua penonton teriak2 nyanyi. Saya juga ikut. Suara saya sampe abis. Seorang pemudi early twenties berkaus lidah RS tiba2 ngajleng ke panggung. Dia mulai bergerak2 sensual, lalu membuka ikatan rambutnya yang panjang. Trus dia mengibas2kan rambutnya sensually. Wuih... kayaknya dia stoned. Tiga ekor kiwi juga berjoget di depan panggung, somewhat annoying. Mereka pake acara buka baju dan lempar kaos segala. Cewek berrambut panjang yg tadi nggak ikut2an buka baju. Well, you can't always get what you want, guys!!!

The Rock Cafe ini soundnya bagus. Lighting standard. Crewnya helpful, tapi waitressnya tulalit. Event ini rupanya produksi perdana dari kolaborasi Ibnu Jagger dan Kiki Rasta. Saat keluar dari Grand Flora, di lobby saya lihat ada wajah yg familiar. I know him. Kiki, tetangga saya di Cicadas. Rupanya dia panitia (Kiki Rasta). Setelah sejenak bertukar kata, dia bilang, "Saya nggak nyangka Harry bisa segemuk ini..." Oh no, not again...