Jumat, April 18, 2008

Max Brenner Chocolate Bar



Setting ruangan Max Brenner ini masih tetap seperti yg dulu saat saya terakhir kali datang ke sini. Jejeran produk coklat di sebelah kanan pintu masuk, hiasan karung2 bertuliskan CACAO (bukankah seharusnya COCOA?) di atas rak2 yang tinggi, meja bar, dan stilasi lukisan wajah Max dengan teks riwayat dia menyukai coklat terpajang di dinding, ... semuanya masih tetap ada di tempat yg dulu.

Atmosfernya nyaman. Tidak ada musik. Yang terdengar cuma suara denting gelas dan sendok, serta gelak tawa dan obrolan tamu2 yg lagi menikmati coklat.

Berbagai macam variasi hidangan dari coklat ditawarkan di menu. Coklat panas atau dingin, cair atau padat, atau coklat dari berbagai belahan dunia, bisa dipilih dan dinikmati dengan cara penyajian yang unik. Untuk anak2 bisa mencoba menu (ah, lupa namanya...!) butiran2 coklat dimasukkan ke dalam susu yang dipanaskan dengan api kecil, dan diaduk teruuuuus, sampai tercipta minuman coklat susu yang panas yang lezat.

Ada cerita menarik. Setelah kami masuk, duduk beberapa saat dan siap order, bartendernya bilang bahwa dia masih baru dan seniornya kemungkinan terlambat datang. Dia nanya apakah kami lagi terburu2 sehingga pesanan harus segera disajikan. Kami jawab tidak. Dia pun sibuk mondar mandir ngerjain semua pesanan dan melayani tamu lain, seorang diri. Tak lama seniornya datang, minta maaf sama bartender baru, lalu ikut sibuk melayani tamu.

Pesanan kami datang. Chocolate Fondue yang terdiri dari satu mangkuk coklat cair yang dipanaskan, untuk dicocol dengan marshmallow, cake, strawberry, dan pisang. Ditambah minuman coklat dingin, hm... yummy!

Setelah kami selesai, si bartender baru tadi datang dengan membawa satu piring waffle dengan kucuran coklat cair di atasnya. Kami kaget karena nggak ngerasa pesan. Si bartender itu bilang bahwa waffle itu gratis untuk kesabaran kami menunggu order yg terlambat dihidangkan. Aha! Siapa yang bisa menolak tawaran kyk gini?

Max, I like the way you run your business!

MAX BRENNER CHOCOLATE BAR
8 Raffles Avenue, #01-06/08 Esplanade Mall, Singapore 039802
Phone number: +65 62359556
Opening Hours: Sun-Thurs - 11:00am to 11:00pm
Fri-Sat - 11:00am to 12:00 (Midnight)

It is so simple. All you have to do is really love chocolate!

Minggu, April 13, 2008

Pisang Sambal di Bunaken



Bunaken artinya 'tempat persinggahan'. Baru tau kan? Latar belakang foto di atas adalah Gunung Manado Tua. Di sanalah pertama kali masyarakat Manado terbentuk. Orang2 akan pergi ke sana untuk belanja, dll. Karena perjalanan cukup lama (ukuran saat itu) dan sambil menunggu cuaca/angin baik, orang2 singgah di Bunaken -tempat persinggahan. Soponyono, tempat persinggahan ini sangat indah dengan taman laut yang luar biasa.

Taman laut dan ikan2 kecil warna warni benar2 bikin takjub. Beda jauh dengan ikan sepat dan ikan sapu2 yang saya pelihara di rumah (ya eya laah!!!) Sesuai saran nakhoda (baca: tukang perahu sewaan), kami membeli beberapa bungkus Biskuat. "Untuk kasih makang ikang," katanya. Benar saja, satu keping Biskuat kita remas2 dalam air, ikan2 pun datang mendekat dan dengan lahap berebut remasan Biskuat di tangan kita. Setelah beberapa kali mencoba meremas Biskuat di dalam air, saya ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi ikan. Saya ambil sekeping Biskuat, lalu saya masukkan ke mulut saya sendiri. Hm... pernah anda bayangkan bagaimana rasanya jadi ikan? kalau mau coba, silakan makan Biskuat dicampur air laut ;)




Kawan seperjalanan spt Rafiq dan Aldi, dengan girang menceburkan diri ke laut untuk menikmati indahnya taman laut. Saya gak nyebur, soalnya bekal pakaian sudah pas2an. Undies juga sudah habis. Masa nggak pake? Bisa mabok ikan2nya nanti. Nekad berenang sambil pake undies (satu2nya yg masih bersih)? Nah setelah berenang, pake apa dong? Kalo nggak pake, bisa terdengar bunyi lonceng, 'klontang klonteng' kalo saya jalan. Mungkin kapan2 kalo saya ke Bunaken lagi deh.



Setelah puas menikmati indahnya laut dan langit, kami duduk di warung2 yg ada di pantai. satu butir kelapa muda, terasa sungguh menyegarkan. Pisang goreng pun dipesan. Tak lama, sepiring pisang goreng panas disajikan, dengan sepiring kecil sambal. Nggak salah neh? Ternyata nggak.
Pisang goreng itu dicocol ke sambal, rasanya.... sensasional!



Harry's wardrobe:
Army hat : Eiger
Sunglasses : RayBan (made in Om Ming, Pasar Baru, Jkt)
T Shirt: WWF (Free. Thx to Santy & Isman)

Minggu, April 06, 2008

WE WILL ROCK YOU: When Galileo Meets Scaramouche


Saya suka Queen sejak SMP. Ceritanya begini, (ehm!): Ada preman mabok yang jual kaset bekas (tanpa case dan cover, produksi Aquarius, belakangan saya tau itu kaset Best of Queen I). Mungkin dia pingin beli rokok atau apalah, yg jelas itu kaset jadi teman setia saya setiap malam sebelum tidur. Sejak itu saya suka grup ini, dan saya terus hunting album2nya, baca artikel2nya, dan mencoba memainkan lagu2nya (cuma berhasil bbrp lagu saja, itupun versi sederhana). Tak terasa, sudah puluhan tahun saya dengerin musik mereka. Sampe hafal. Anda boleh test. Sebut judul lagu Queen, saya akan bisa menyanyikannya, dan mungkin bisa cerita sedikit ttg lagu tsb, ada di album mana, ttg apa, siapa penciptanya, dll.

Jadi saat tau ada produksi drama musikal We Will Rock You (WWRY) di Inggris tahun 2002, saya sudah berniat pingin nonton (kalo suatu saat mentas di Indonesia). Nah, bbrp minggu yg lalu, saya baca bahwa WWRY akan mentas di Singapore. Ha! Saya pun mulai cari2 jadual.

Saya beruntung. Segala jalan dimudahkan. Tiket pesawat, tiket pertunjukan, akomodasi, kawan seperjalanan seselera senasib sepenanggungan... Alhamdulillaah! Singkatnya, kami berhasil tiba di Singapore dengan selamat.


Melangkah pasti menuju Esplanade Theatre, Singapore.


Saya menyarankan supaya beli tiket yang terbaik, yang dapat best view. Sayang kan udah jauh2, tapi nontonnya terhalang?


Crest Queen dari album A Night at the Opera.

Tata lampu, sound, dan special effects benar2 menggetarkan.
Saya nggak akan cerita banyak soal ceritanya. Silakan aja baca Kompas. Yang jelas, setting ceritanya adalah tahun 2302, saat kaum Bohemian memberontak akibat kesewenang2an Killer Queen. Dukungan layar multimedia, laser, menjadikan suasana futuristis sangat terasa.

Adegan paling dramatis menurut saya adalah saat Galileo dan Scaramouche sedang berduaan di sebuah gubuk, saat mereka lari dari kejaran Killer Queen, Khasoggi, dan antek2nya. Terasing berdua di gubuk sederhana, dengan latar ribuan bintang berkelap kelip (bintang banyak temannya!), wah... pemandangan luar biasa. Apalagi kemudian Galileo & Scaramouche menyanyikan "Who Wants to Live Forever?", pas banget:

But touch my tears with your lips... Touch my world with your fingertips... And we can have forever... And we can love forever... Forever is our today... Who wants to live forever... Who wants to live forever... Forever is our today... Who waits forever anyway ?


Bergaya di lobby theatre, sambil mikir2 gimana caranya supaya poster yang nempel itu bisa dibawa pulang ke Cijambe.



Merchandise yg dijual bikin lidah melet. T-Shirt, pin, CD, keychain, dll.



Saya beli CD soundtrack Rock Theatricalnya. Saya memang ngumpulin lagu2 cover version dari grup2 yg saya suka. CD WWRY ini jelas mesti masuk ke dalam koleksi saya. Berikut ini tracklistnya:
1. Innuendo
2. Radio Ga Ga
3. I Want To Break Free
4. Somebody To Love
5. Killer Queen
6. Play The Game
7. Under Pressure
8. A Kind Of Magic
9. I Want It All
10. Headlong
11. No-One But You (Only The Good Die Young)
12. Ogre Battle
13. One Vision
14. Who Wants To Live Forever
15. Flash
16. Seven Seas Of Rhye
17. Don't Stop Me Now
18. Another One Bites The Dust
19. Hammer To Fall
20. These Are The Days Of Our Lives
21. We Will Rock You
22. We Are The Champions
23. We Will Rock You (Fast Version)
24. Bohemian Rhapsody
Mendengarkan CD ini, seperti mendengarkan Queen rasa baru, gabungan antara lagu2 dari Freddie Mercury Tribute Concert dengan soundtrack film Flash Gordon. Maksud saya, kita bisa dengerin lagu2 Queen, tapi tidak dinyanyikan dan dimainkan oleh Queen, dengan tambahan sedikit2 dialog dari para karakter dalam WWRY.

Jumat, April 04, 2008

From the Batam of My Heart


This is my first visit to Batam, a city forced to develop. A Singapore wannabe.

Selasa, April 01, 2008

Chandrasa Reunion Jam Session


Setelah acara reuni akbar kemaren, saya terlibat kontak sms dengan bbrp kawan, di antaranya Permana aka Utun dan Unan aka Hendrix (pilihan nick semena2  banget!) . Mereka adalah 'rekan sejawat' bermain musik di sekolah dulu. 
Hari Sabtu 29 Maret 2008, mereka berkunjung ke rumah.

Setelah acara remeh temeh bernostalgia, saya giring mereka untuk main musik. Unan tidak ada kesulitan dengan gitar listriknya, hanya belum nemu suara efek yang pas. Permana agak kagok dengan digital drum pads yang tersedia. Beberapa kali saya dengar dia bergumam' "Ini teknologi! Ini teknologi!" katanya sambil menggosok2 mukanya.

Setelah beberapa menit 'menyamakan suara', maka dimainkanlah lagu2 yang pernah kami mainkan dulu, di antaranya A Kind of Magic (Queen) dan Child in Time (Deep Purple). Beberapa lagu lain juga kami coba mainkan, di antaranya Imagine (John Lennon), Smoke on The Water (Deep Purple), Nothing Else Matters (Metallica), Aku Cinta kau dan Dia (Ahmad Dhani), Knockin' On Heaven's Door (Guns n' Roses), dan tak lupa
I Saw Her Standing There (Beatles). Selain itu kami coba mainkan juga bagian awal dari 
Bohemian Rhapsody (Queen).

It's nice to remember things in the past. Semasa SMA, saya pernah bikin band:
1. Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band
2. Big Bang
3. Chandrasa

Jadi terkenang deh saat kami jadi 'baramaen' di kelas, supaya bisa latihan di studio Maestro selama 30 menit. Atau saat pementasan di Hari2 Sastra Unpad, 2 senar gitar dengan sengaja diputuskan oleh band sebelum kami mentas, atau saat mentas pada acara Old & New di ITB yang pulangnya nikreuh dugi ka Cicadas. 

Sayang sekali tidak ada Bebep, Julianus, Dwi Santoso, atau Ferry (alm)...