Jumat, 30 Desember 2016

TU(M)BUH - Monolog Tubuh - Tony Broer

TU(M)BUH
Monolog tubuh - Tony Broer

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya menonton pertunjukan teater. Mungkin bulan April 2016 di Cirebon Theatre Festival 2. Di sanalah saya berkenalan dengan Tony Broer yang menjadi salah satu instruktur dalam workshop teater dalam festival tersebut.

Dikenal sebagai seniman teater yang mengutamakan faktor fisik, nama Tony Broer nyaris tidak bisa dipisahkan dari ketahanan dan kelenturan tubuh. Materi workshop teaternya juga ditekankan pada kedua hal ini. Sayangnya saya tidak sempat mengikuti workshopnya karena pada saat bersamaan, saya harus mengikuti workshop pantomim dari Om Wanggi Hoed dan Manajemen Produksi dari Mbak Ratna Riantiarno.

Untunglah saya punya kesempatan untuk sejenak berbincang2 dengan Tony Broer. Ketika saya katakan bahwa penelitian untuk disertasi saya adalah mengenai tubuh, dengan antusias Tony menjawab pertanyaan2 yang saya ajukan. Tony bahkan memberi saya sejumlah video karyanya, termasuk video riset TEATER TUBUH JALANAN yang dia buat.

Monolog TU(M)BUH karya Tony Broer ini mengawali Pertunjukan Teater Tubuh "POST HASTE" karya/sutradara Rachman Sabur yang dipentaskan di 20-22 Desember 2016 di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI, Jalan Buah Batu, Bandung.


Saya sudah siap di lobby Sunan Ambu sejak magrib. Awalnya saya agak bingung juga ketika seluruh penonton kemudian digiring ke studio di lantai atas gedung kesenian. Penonton cukup banyak sehingga tangga yang tersedia tidak cukup untuk mengakomodasi aliran penonton menuju ruang studio. Suasana terasa pengap dan gelap. Rupanya monolog TU(M)BUH tidak dipentaskan sepanggung dengan POST HASTE.


Di atas, ruangan studio sudah diset untuk mementasan TU(M)BUH. Lampu temaram menerangi sejumlah properti panggung berupa sebuah tangga vertikal di tengah, dan beberapa instalasi tubuh manusia. Saya duduk lesehan bersama penonton lain. Pertunjukan diawali dengan tampilan visual di dinding studio, menampilkan deretan tubuh bergerak  dengan setting suasana pedesaan. Suara serangga nyaris terdengar sepanjang waktu. Musik latar enak didengar serta visual yang ditampilkan cukup artistik.


Visual di dinding tiba2 berhenti. Lampu sorot mengarah ke atas. Rupanya di puncak tangga sudah ada Tony. Hanya mengenakan celana pendek ketat, dengan elegan Tony menuruni tangga vertikal 90 derajat. Untuk menuruni tangga secara perlahan dan indah itu jelas dibutuhkan ketahanan dan kelenturan fisik yang luar biasa.


Tony selanjutnya menampilkan hasil eksplorasi tubuhnya secara maksimal, termasuk beberapa signature pose dan pemanfaatan sejumlah properti khas seperti masker gas, bakiak kayu, kerudung merah dan -tentu saja- drum minyak yang digunakan Tony untuk menjajal kekuatan fisiknya. Benar, Tony masuk ke dalam drum itu, lalu menggelinding dari ujung ke ujung panggung. Tak lupa Tony meminta dua orang penonton untuk membantu 'menyiksa' dirinya dengan memukuli drum dengan kayu. Saya yang berada sekitar 7 meter dari drum tersebut merasa kuping saya sakit mendengar suara drum dipukuli sekuat tenaga. Bayangkan seperti apa getaran yang dirasakan oleh tubuh dan gendang telinga Tony yang berada dalam drum minyak tersebut. Interaksi dengan penonton terbangun dengan baik. Di tengah pertunjukan, Tony sempat berbaur dengan penonton dan berswafoto.  Di akhir pertunjukan, Tony yang mengenakan selendang merah dan membawa payung bolong kemudian menggiring penonton menuju panggung utama untuk menyaksikan POST HASTE.

Saya mencoba memahami apa yang ingin disampaikan Tony melalui monolog tubuh TU(M)BUH ini. Kalau penyair Sutardji Calzoum Bachri yang dijuluki Presiden Puisi Indonesia mencoba untuk "membebaskan kata dari makna", maka Tony berusaha untuk membebaskan tubuh dari predikat atau representasi apa pun yang dirasakan menjadi belenggu. Tubuh selama ini hanya sebagai obyek, menjadi sesuatu yang dibangun oleh kekuatan di luar tubuh.Saya tidak ingin berpanjang lebar mengomentari. Saya cuma ingin katakan: Ini adalah pertunjukan monolog tubuh kelas dunia. Saya juga berharap, TU(M)BUH akan diikuti dengan pementasan lain. Mungkin yang agak religius seperti (T)(S)UBUH, yang sensual seperti (SE)TUBUH, yang penuh kesabaran seperti TUBUH TABAH atau yang katastropik seperti (T)(R)UBUH. Selamat Bang Tony. Keep up the good work!


Senin, 11 Mei 2015

Arrowguns @america - Gunners to the Bone

Saya suka nonton tribute band. Mereka tidak hanya mencoba memainkan musik band terkenal seakurat mungkin, tapi juga berkostum seperti band aslinya. Ada banyak tribute band yang cukup dikenal macam Mat Bitel (tribute The Beatles) atau Acid Speed (tribute The Rolling Stones). Nah, kalau anda penggemar Guns N’ Roses (GN’R), maka tribute band yang benar-benar ‘ngelotok’ ya cuma Arrow Guns. Mereka tak hanya memperhatikan unsur musikalitas, tetapi juga fashion dan attitude dari GN’R sampai detail.

Sudah lama saya tidak nonton Arrowguns. Mungkin mereka sering pentas di mana-mana, tapi sayang lokasi pertunjukan yang agak susah dijangkau, terutama bagi penggemar dari luar kota seperti saya. Jadi begitu ada kabar bahwa mereka akan mentas di @america Pacific Place pada Jumat malam (8 Mei 2015, saya segera menyiapkan segala sesuatu supaya bisa nonton.

Segalanya terlihat sudah direncanakan dengan baik. Tata panggung, tata suara dan cahaya sudah diatur secara sangat baik. Video wall di belakang panggung menampilkan visual yang cocok dengan lagu yang dibawakan. Pukul 19.30 Arrowguns muncul dan menggeber hits GN’R di hadapan sekitar 300 penonton.

 
Sesaat sebelum Arrowguns memainkan lagu Civil War, video wall menampilkan cuplikan film Cool Hand Luke yang dibintangi aktor Paul Newman. Kalimat "What we've got here is failure to communicate" terlihat diucapkan oleh Strother Martin (sebagai Captain, seorang sipir penjara). Tak lama intro Civil War mengalun, dan McAxl muncul mengenakan boots & jacket bertuliskan US ARMY. Upaya menampilkan cuplikan video film jadul (tahun 1967!) ini layak diacungi jempol. Para penggemar GN’R jadi tahu asbabun nuzul dari kalimat yang muncul di awal lagu tersebut. Dengan demikian tidak ada lagi dugaan-dugaan tanpa dasar yang sering dibahas di media sosial tentang siapa yang ngomong. 



Sanjoyo alias McAxl yang berperan sebagai frontman dari Arrowguns memang cukup memperhatikan detail. Dia tidak hanya menyanyi mirip Axl Rose, tetapi juga berdandan dengan kostul mirip AXL dari ujung rambut sampai ujung kaki: headband, shirt Kill Your Idol , white leather jaket, jam tangan merah, sampai ke sepatu dangan initial AXL. Tak hanya itu, gaya panggung, snake dance, hingga sorot mata kemarahan juga berhasil ditampilkan McAxl. Di sela lagu, Mc Axl juga berkomunikasi dengan penonton dengan suara sengau mirip Axl, “It’s glad to be here in Eindoneysie…” yang tentu saja disambut dengan sorak dan gelak tawa penonton. Kalimat2 pengantar sebelum menyanyikan lagu juga ditiru McAxl seperti “Tonight’s happy song kinda like a walk in the park…” Penggemar hardcore GN’R tentu sudah bisa menebak bahwa lagu berikutnya adalah Estranged.

McAxl juga merespon celetukan penonton yang mencemooh benda tumpul yang menyembul dari celana pendeknya dengan menjawab dengan logat Axl yang khas, “I don’t know what you mean by saying ‘Peler! Peler…!’”. Penonton pun tertawa. Good response, McAxl! Maybe you shoud wear a jockstrap next time.



Lagu Estranged ini memang istimewa. McAxl menyuruh berhenti di awal lagu ketika merasa ada lirik dan musik yang gak sinkron, persis seperti yang dilakukan Axl. Selain itu McAxl juga melompat dari panggung (sebagaimana Axl loncat dari kapal cargo). Kalaupun ada kekurangan, mungkin cuma Slash yang agak keteteran saat bermain solo dan McAxl juga tidak mengenakan jaket (ungu) saat menyanyikan bait terakhir Estranged.

Pada lagu apa Axl menyanyi sambil duduk? Tepat, lagu Patience. Selain video wall yang menampilkan cover album GN’R Lies…, McAxl juga mengambil posisi duduk seperti yang dilakukan Axl.





















Dari sekitar 300an penonton yang hadir, bisa dipastikan bahwa sebagian besar mereka adalah spesies Gunners berjenis hard core. Mereka hafal semua lagu. Bahkan saat November Rain dimainkan, seluruh bait pertama dinyanyikan oleh penonton. Tapi semuanya tetap tertib. Mungkin karena sistem pengamanan di @america yang begitu ketat, kelihatannya agak sulit menyelundupkan alkohol. Jadi Arrowguns pun sudah mengantisipasi lewat media sosial “maboknya di luar dulu ya”.







Menjelang akhir pertunjukan, McAxl turun panggung dan berlari ke belakang penonton. Sambil bernyanyi di antara penonton, McAxl melayani para penggemar untuk selfie. Saya termasuk beruntung karena McAxl berdiri persis di belakang saya. Hehe, nggak bisa selfie sama Axl yang asli, sama McAxl pun gak apa-apa lah…


  
Secara musikalitas, kemampuan Arrowguns tidak perlu diragukan lagi. Kemudian kemampuan untuk meniru gaya, kostum dan penampilan GN’R juga sudah OK. Semuanya nyaris sempurna untuk sebuah band tribute. They are true gunners – right to the bone. Kalaupun harus disebut sebagai kekurangan adalah bahwa Arrowguns tidak membawakan Sweet Child O’Mine, padahal lagu tersebut adalah salah satu trademark GN’R. Selain itu tiruan backing vocals Tracy Amos dan Roberta Freeman yang bersemangat meliuk-liukkan udel mereka yang bertindik agak kurang terdengar, kecuali di lagu Patience dan  Knockin’ on Heavens’ Door. 





GN’R adalah salah satu tonggak budaya pop, tak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia. Dengan enam album dan penjualan mencapai lebih dari 100 juta kopi serta lirik2 yang mencerminkan budaya Amerika (seperti Civil War dan Paradise City), memang tidak salah jika GN’R ditampilkan oleh @america, sebuah lembaga yang merupakan pusat kebudayaan abad mutakhir di mana Anda dapat menjelajahi dan mengeksplorasi Amerika Serikat. Saya berharap semoga Arrow Guns dan @america bisa lebih sering bekerja sama dan menggelar acara serupa di kota2 lain di Indonesia.